Cara mengatasi sakit kepala setelah usai bercinta


Cara mengatasi sakit kepala setelah usai bercinta
Meski tak banyak, sebagian orang pernah mengalami sakit kepala mendadak saat bercinta atau setelah orgasme. Serangan ini umumnya tidak berbahaya dan bisa dicegah dengan teknik tertentu sesuai dengan jenis sakit kepala yang dirasakan.

Di kalangan medis, sakit kepala saat berhubungan seks sering disebut dengan istilah coital cephalgia. Diperkirakan, gangguan ini hanya diderita oleh 1 persen pasangan dan kebanyakan penderitanya adalah laki-laki berusia antara 20 hingga 30 tahun.

Jenisnya ada 2 macam, yakni tipe 1 dan tipe 2. Sakit kepala tipe 1 rasanya seperti ditekan dan biasanya muncul di bagian belakangan kepala. Sedangkan tipe 2 hanya muncul sesaat yakni sebelum atau sesudah orgasme namun rasanya lebih menyakitkan.

Baik tipe 1 maupun tipe 2 jarang dikaitkan dengan gangguan saraf otak, namun tetap disarankan untuk menghubungi dokter jika sering mengalaminya. Biasanya, tipe 2 yang hanya muncul sesaat saat orgasme lebih sering dikaitkan dengan penyakit lain yang lebih berbahaya.

Dr Cindy Pan, seorang penulis buku kesehatan dari Australia mengatakan penderita tidak perlu menghindari hubungan seks untuk mencegah sakit kepala ini.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, mulai dari menerapkan teknik tertentu hingga memakai obat-obatan.

Untuk jenis sakit kepala tipe 1, pencegahannya adalah dengan melakukan peregangan sebelum memulai aktivitas seksual. Peregangan yang cukup pada otot-otot leher, rahang dan juga bahu terbukti bisa mengurangi atau bahkan mencegah serangan sakit kepala selama bercinta.

Sedangkan untuk tipe 2, cara mencegahnya adalah dengan menghentikan aktivitas seksual sesaat sebelum mencapai orgasme lalu melanjutkannya dengan lebih perlahan. Cara ini tidak selalu berhasil, namun setidaknya bisa mengurangi intensitas rasa sakit yang dirasakan oleh penderita.

"Bisa juga dengan obat-obatan misalnya golongan anti-migrain dan beta blocker, sebelum berhubungan seks atau sesudah serangan itu muncul. Hubungi dokter untuk memilih obat yang paling tepat," kata Dr Cindy seperti dikutip dari Bodyandsoul